close
unik

Ada Hotel Khusus Untuk Mayat di Jepang, Berani Nginap?

0-29-510×300

Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, “tempat penampungan buat pendatang” atau bisa juga “bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum”. Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.

Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika Serikat, yang namanya pegawai atau karyawan hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan nginap dan makan gratis ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah. Namun, pernahkah kamu berpikir ada hotel khusus buat mayat? Iya mayat! Penasaran guys? Yuk kita simak.

Kamu pasti tak menyangka, jika di negara Jepang terdapat hotel khusus untuk orang yang sudah meninggal. Ya, kenyataannya hotel tersebut sukses dan menerima banyak pesanan dari berbagai daerah.

Seperti yang dilansir dari Amusingplanet, tujuan pembuatan hotel ini dilatarbelakangi oleh angka kematian setiap tahun yang mencapai 1,6 juta jiwa dan jumlah krematorium sangat terbatas dan siapapun yang mendaftarkan anggota keluarganya untuk di kremasi haruslah mengantri dan menunggu sampai beberapa hari itulah alasan yang menjadi landasan seorang pengusaha bernama Hisao Takegishi membangun Sou Sou, hotel khusus untuk mayat. Jenazah yang mengantri ini membutuhkan tempat yang bisa menjaga kondisi jenazah selama beberapa hari. Hotel jenazah kemudian menjadi solusi yang cukup disukai karena dapat menjaga kondisi keutuhan jenazah dengan masa ‘menginap’ hingga empat hari.

Letaknya yang terselip di perumahan yang tenang kota Kawasaki, Jepang membuat Hotel Sou Sou tak mencolok dilihat mata. Bangunan hotel ini terkesan biasa saja, tak istimewa. Karena hotel bersebelahan dengan rumah-rumah warga dan pabrik-pabrik kecil di kawasan kota Kawasaki.

Desain interior maupun eksterior memang tak menjadi prioritas bagi penghuni kamar hotel ini. Agar terlihat seperti hotel, maka rumah mayat ini hanya diberi alat pendingin ruangan saja, bukan pendingin mayat seperti di rumah sakit. Fungsinya juga hanya supaya ruangan tetap sejuk. Ya, itu karena yang menjadi tamu hotel adalah jenazah. Jadi, mereka tak bakal banyak menuntut apapun soal layanan kamar.

Hotel tersebut bahkan menjadi tempat privat bagi para kerabat dan mereka yang berduka untuk menyampaikan hormat kepada seseorang yang telah meninggal.

Populasi usia uzur di Negeri Matahari Terbit semakin tinggi, sehingga terjadi daftar tunggu untuk melakukan kremasi. Waktu tunggu penggunaan krematorium bisa seminggu atau lebih, terutama di kawasan perkotaan.

Fenomena inilah yang dijadikan peluang usaha bagi tempat-tempat seperti Hotel Sou Sou. Hotel semacam ini berfungsi sebagai kamar mayat sementara. Jangan salah, tingkat hunian hotel jenazah ini cukup tinggi, terbukti dari kamar mereka yang selalu penuh setiap harinya.

Di hotel Sou Sou, para anggota keluarga bisa menghias ruangan dengan bunga dan kenangan tentang mendiang. Tempat itu sendiri terdaftar sebagai fasilitas penyimpanan, tapi para anggota keluarga bisa menginap kalau mau. Tidurnya di kursi panjang dan bisa juga memesan makanan dan juga minuman yang tersedia.

Hotel Sou Sou setiap harinya selalu kebanjiran pesanan dan mendapat pujian. Hirokazu Hosaka, seorang pria berusia 69 tahun yang menginapkan jenazah ibunya di sana, mengaku sangat senang dengan keberadaan hotel ini.

“Saya pikir ini sangat bagus. Pihak keluarga yang ditinggaalkan, bisa datang dan menjenguk sebelum jenazah dikremasi,” ujarnya.

Namun ternyata, keberadaan hotel mayat ini memancing reaksi negatif dari penduduk sekitar.
Mereka menilai bahwa tempat itu menyeramkan dan tidak menyukai keberadaannya di sekitar kompleks perumahan.

Salah satu warga yang merasa hidupnya tidak nyaman berdampingan dengan mayat adalah Yoko Masuzawa (50). Dia tinggal persis di belakang hotel mayat tersebut.

“Bangunan itu dibangun sangat dekat dengan rumah warga lain. Kira-kira kurang dari satu meter jaraknya dengan bangunan lain. Saya menuntut untuk menempatkan beberapa alat ventilasi udara bawah tanah, namun diabaikan pihak hotel,” katanya.

Meski demikian, banyak warga Jepang lain yang berterima kasih pada Sou Sou, karena bersedia menyimpan keluarga mereka hingga proses kremasi terjadi.

Kemunculan hotel jenazah ternyata menjadi tanda bahwa prosesi pemakaman di negeri Sakura ini butuh biaya yang tak sedikit. Pemakaman di Jepang terkenal sebagai salah satu yang paling mahal di dunia loh. Itu baru makamnya, ada lagi biaya layanan lain seperti sewa mobil jenazah, ruang duka dan makanan bagi pelayat yang bisa mencapai angka 300 juta rupiah. Ketika semua biaya itu ditotal, maka biaya pemakaman di Jepang mencapai sepuluh kali lipat lebih tinggi dari biaya pemakaman di Inggris. Wow!

Tumbeho Zen

The author Tumbeho Zen